Filosofi Sungai


Kisah inpirasi ini disampaikan Dyan Syawitri khusus untuk Stai R sahabat Nomor1.
Kumpulan kisah lengkap ada di Kumpulan Inspirasi Dyan Syawitri


Oleh: Margereth Simardjo

Pagi ini, untuk ketiga kalinya aku berkunjung ke tempat favoritku di lembah. Dimana aku bisa melihat pemandangan yang begitu indah disana. Gunung yang diselimuti kabut, rumput terbentang luas, sungai yang beriak-riak, pepohonan yang menjulang tinggi. Kalau kemarin aku duduk di atas bukit, menikmati semuanya itu, pagi ini aku terdorong untuk mendekat ke arah sungai, dan duduk di pembatas sungai, sehingga sungai tersebut ada di bawahku.

Di situlah aku merenungkan tentang satu filosofi yang pernah diutarakan oleh filsuf yang sangat terkenal di jaman lampau, yaitu Heraclitus. Beliau pernah mengutarakan satu filosofi yang sangat terkenal hingga kini : Panta ch?rei kai ouden menei, yang artinya “Everything changes and nothing remains still”. (http://en.wikipedia.org/wiki/Heraclitus).

Kalau di Indonesia, ada filosofi yang mirip dengan itu: “Segala sesuatu mengalir seperti sungai.”
Dan tadi pagi, aku sedang berada di depan sungai. Filosofi itu terngiang-ngiang di kepalaku. Apa maksudnya segala sesuatu itu mengalir seperti sungai? Aku lalu duduk tenang dan mengobservasi sungai yang ada di bawahku. Aku melihat pada awalnya, riak sungai itu tenang, di tengah-tengah riak-riak berubah menjadi begitu kencang karena batu-batu besar yang menghalangi aliran air. Aku mempertanyakan, darimana datangnya aliran sungai yang begitu kencang dan ribut tersebut. Dan kudapat jawabannya kemudian, setelah aku menanyakan penduduk desa setempat. Kata seorang Bapak yang kira-kira berumur 50 th itu, sungai bisa mengalir karena berasal dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang rendah, selain itu ada tenaga dari PLTA yang membantu menggerakkan aliran sungai tersebut. Hal yang menarik lainnya, ketika melewati bebatuan itu, ada air-air yang menabrak bebatuan, ada yang lewat dari samping bebatuan. Aku jalan menelusuri sepanjang sungai, dan kutemukan, pada akhirnya, sebelum sampai ke muara, aliran sungai semakin tenang dan tidak se-ribut sebelumnya. Makin mendekat ke muara, semakin tenang, sampai tidak ada suara air yang terdengar.

Aku juga melihat ke samping kananku. Di samping kananku ada sungai juga, yang lebih sempit dari pada sungai di sebelah kiriku. Ada perbedaan yang mencolok, dimana sungai yang ini tidak ada bebatuan sama sekali, dan airnya mengalir dengan sangat perlahan. Di mataku, sungai yang ini tidak terlihat menarik dibandingkan sungai yang penuh riak-riak dan bersuara dengan begitu merdunya.

Aku memandang sekeliling sungai, di atas sungai, ada rumput-rumput hijau membentang serta pepohonan yang menjulang tinggi. Begitu indah dan menyejukkan mata.

Aku kemudian mengasosiasikannya dengan kehidupan. Hidup kita berasal dan bersumber dari Ata… click di sini untuk membaca selengkapnya: Filosofi Sungai 


Filosofi  ini dikirim ke E-Mail : stai54r@gmail.com oleh admin@nomor1.com
Tanggal 29  Maret  2016


 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *